Suara Nurani dalam Praktik Jurnalistik

Oleh: Junaidi Ismail, SH
Wartawan Utama – Dewan Pers

DALAM hiruk-pikuk dunia informasi hari ini, ketika berita dapat berpindah ke layar ponsel jutaan orang hanya dalam hitungan detik, praktisi jurnalistik berdiri pada posisi yang semakin strategis sekaligus rentan. Di tengah tekanan kecepatan, tuntutan klik, dan arus opini yang tak pernah berhenti, satu hal justru semakin penting dijaga yakni hati nurani.

Sebagai penjaga gerbang informasi publik, wartawan bukan sekadar penyampai kabar. Ia adalah penafsir realitas, penerjemah fakta, dan pengawal kepentingan masyarakat. Maka setiap keputusan jurnalistik, sekecil apa pun, selalu memiliki dampak. Di sinilah hati nurani bekerja, menjadi kompas moral ketika aturan teknis saja belum cukup.

Kode etik memang memberikan batasan formal, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Namun, kenyataannya, realitas lapangan sering kali menghadirkan dilema yang tidak dapat dijawab hanya dengan pasal-pasal.
Apakah sebuah informasi sudah layak tayang? Apakah narasumber cukup terlindungi? Apakah cara memperoleh data tidak merugikan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat dijawab dengan kejujuran batin seorang wartawan.
Hati nurani menuntun praktisi media untuk melihat manusia di balik setiap peristiwa, bukan sekadar objek pemberitaan. Ia mendorong wartawan untuk lebih berhati-hati ketika sebuah berita berpotensi menimbulkan stigma, keresahan, atau bahkan kerusakan yang tidak perlu.

Di era digital, tekanan pada wartawan semakin besar. Redaksi menuntut kecepatan, audiens menuntut drama, dan algoritma media sosial menuntut sensasi.
Lalu bagaimana menjaga integritas ketika godaan begitu kuat?
Jawabannya tetap kembali pada panggilan nurani.
Seorang wartawan yang memegang teguh nilai etik akan menolak kompromi terhadap kebenaran, sekalipun harus berhadapan dengan editor, pemilik media, atau opini publik yang tengah bergelora. Ia mengerti bahwa tugasnya bukan menyenangkan banyak orang, tetapi memberikan informasi terbaik bagi masyarakat.

Menghidupkan Jurnalisme yang Menguatkan Publik
Opini publik hari ini sangat mudah dipengaruhi oleh informasi yang tidak lengkap, sepotong-sepotong, atau bahkan sengaja dipelintir. Karena itu, wartawan memiliki tanggung jawab untuk hadir sebagai penjernih, bukan pencampuraduk.

Jurnalisme yang berpihak pada nurani akan melahirkan
Berita yang menenangkan, bukan memprovokasi.
Analisis yang mencerahkan, bukan membingungkan.
Liputan yang memberi solusi, bukan memperuncing konflik.
Ketika hati nurani dijadikan dasar, jurnalisme bukan hanya profesi, melainkan pengabdian.

Dalam setiap lembar sejarah media, wartawan yang dikenang bukanlah mereka yang paling cepat menayangkan berita, melainkan yang paling berani mengatakan kebenaran.
Dan keberanian itu bersumber dari satu tempat, hati nurani.
Karena pada akhirnya, ketika semua gema opini mereda, ketika semua teknis pekerjaan selesai, yang tersisa hanyalah pertanyaan sederhana namun menentukan, “Apakah saya telah jujur pada diri sendiri?”
Di situlah martabat seorang wartawan dijaga.
Di situlah kepercayaan publik dibangun.
Dan di situlah jurnalisme menemukan makna terdalamnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *