BANDARLAMPUNG, (SA) – Indonesia sebagai Negara Kepulauan sudah semestinya bisa lebih memanfaatkan potensi sumberdaya laut nya, semaksimal mungkin. Perairan Laut yang ada di Negara Indonesia bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat banyak.
Kelangkaan air adalah kenyataan yang suram. 40% orang tidak dapat mengakses air tawar. Faktanya, terdapat 1.1 miliar orang di seluruh dunia yang kekurangan air minum yang aman. Namun di sinilah desalinasi berperan.
Kebutuhan desalinasi telah berkembang pesat karena meningkatnya populasi dan permintaan industri. Reverse osmosis menjadi mercusuar di tengah tantangan-tantangan ini, menawarkan harapan bagi planet yang haus ini.
Metode ini menghilangkan garam dari air laut sehingga layak untuk dikonsumsi atau digunakan untuk pertanian. Bayangkan mengubah lautan luas menjadi sumber air yang berpotensi memberi kehidupan. Itulah yang dijanjikan oleh reverse osmosis.
Pendanaan dan investasi pada teknologi desalinasi seperti reverse osmosis telah melonjak karena teknologi tersebut menawarkan solusi yang tepat untuk mengatasi krisis rasa haus yang semakin meningkat. Ini bukan hanya tentang kelangsungan hidup; ada implikasi ekonomi juga.
Kota-kota atau masyarakat yang bergantung pada impor air yang mahal kini dapat mempertimbangkan swasembada air melalui pabrik desalinisasi air laut setempat – sehingga menghemat uang. Selain itu, industri yang bergantung pada air bersih dapat menjaga operasionalnya tetap berjalan lancar tanpa khawatir akan berkurangnya pasokan.
Siapa yang tertarik menginvestasikan Uang nya untuk bisnis Desalinasi ini ?
Sebaiknya Gubernur, Atau Tenaga Ahlinya Gubernur, bahkan Menteri Investasi Maritim, mulai berpikir untuk berinovasi maksimal memanfaatkan potensi perairan laut di negara ini.
Tren pasar saat ini menunjukkan ketergantungan yang lebih besar pada proses desalinasi, terutama yang menggunakan sistem hemat energi seperti reverse osmosis dengan pra-perlakuan dan pemulihan energi yang dioptimalkan. Tingkat pertumbuhan menunjukkan banyak hal – diperkirakan peningkatan tahunan sebesar 8% hingga tahun 2030.
Pabrik-pabrik baru bermunculan di mana-mana, dengan setidaknya 200 pabrik direncanakan akan dibangun dalam 15 tahun ke depan. tidak hanya mengatasi kelangkaan air; tapi inovasi ini menciptakan lautan peluang di pasar yang terus berubah. (*)
Apriyan Sucipto – Rakyat Indonesia.
