Oleh: Junaidi Ismail, SH | Wartawan Utama
BANJIR kembali menyapa Sumatera. Ia datang tanpa permisi, merangsek ke rumah-rumah, memadamkan listrik, menenggelamkan kenangan, dan menyisakan kecemasan yang tak mudah diseka. Di balik angka korban dan peta genangan, ada manusia, ibu yang mengeringkan air mata anaknya, ayah yang menatap sisa harta dengan pasrah, dan lansia yang menunggu uluran tangan dengan harap-harap cemas. Di saat seperti inilah, makna berbagi diuji, apakah sekadar rutinitas, atau benar-benar lahir dari hati yang ikhlas.
Berbagi sumbangan kemanusiaan bukanlah kompetisi kebaikan, apalagi panggung pencitraan. Ia adalah panggilan nurani. Ikhlas berarti memberi tanpa pamrih, tanpa menimbang sorotan kamera, tanpa menghitung pujian. Ikhlas juga berarti memahami bahwa bantuan, sekecil apa pun, adalah bentuk kehadiran. Kadang, sebotol air bersih atau selimut hangat lebih bermakna daripada janji yang berkilau.
Di tengah derasnya arus informasi, kita sering terjebak pada angka, berapa ton logistik terkumpul, berapa paket tersalurkan.
Angka penting, tentu. Namun yang lebih penting adalah sikap. Ketika bantuan disiapkan dengan empati, disalurkan dengan tertib, dan disampaikan dengan hormat, ia tak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menguatkan jiwa. Korban bencana membutuhkan lebih dari sekadar barang; mereka membutuhkan rasa dimanusiakan.
Ikhlas juga menuntut kejujuran dan tanggung jawab. Setiap rupiah yang dititipkan adalah amanah. Setiap paket yang dibawa adalah harapan. Transparansi pengelolaan donasi, ketepatan sasaran, dan kecepatan distribusi adalah wujud nyata dari keikhlasan itu sendiri. Tanpa integritas, niat baik bisa kehilangan maknanya.
Sumatera adalah rumah bersama. Saat satu sudutnya terendam, sudut lain dipanggil untuk bergerak. Solidaritas tidak mengenal sekat suku, agama, atau daerah. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa duka mereka adalah duka kita. Dari kesadaran inilah, gotong royong menemukan rohnya, bukan sekadar slogan, melainkan praktik yang hidup.
Sebagai bangsa yang kerap diuji bencana, kita belajar satu hal, kebaikan tidak pernah sia-sia. Bantuan yang diberikan dengan hati ikhlas akan menemukan jalannya, menguatkan yang lemah, dan memulihkan yang luka. Barangkali kita tak bisa menghentikan hujan, tetapi kita bisa memastikan tak ada yang sendirian menghadapinya.
Mari berbagi dari hati. Dengan ikhlas. Untuk Sumatera hari ini dan esok yang lebih tabah. (*)
