DISERTASI NOTHING, Ketika Kritik Tanpa Solusi Hanya Menjadi Riuh Tanpa Arah

Oleh: Apriyan Sucipto, SH., MHWasek TP Sriwijaya Provinsi Lampung

DALAM tradisi filsafat, kita mengenal tiga tahap berpikir yang selalu berjalan beriringan: Tesis, Antitesis, Sintesis. Sebuah dalil tidak lahir begitu saja; ia muncul dari prakondisi, suatu keadaan atau pemikiran awal yang kita sebut tesis. Lalu muncul antitesis, berupa kritik, tantangan, gangguan, peristiwa, bahkan problem-problem sosial yang menggugat tesis tersebut. Barulah setelah itu lahir sintesis, yaitu gagasan atau jawaban baru yang lebih matang, lebih lengkap, dan lebih berdaya guna.

Cara berpikir seperti itu diwariskan oleh para intelektual, para ulama, dan kaum beriman sebelum kita. Mereka tidak hanya mengkritik, tetapi menghadirkan solusi. Mereka tidak hanya membongkar, tetapi membangun. Mereka tidak hanya menyalahkan, tetapi menawarkan jalan keluar.

Namun hari ini ada fenomena baru: tesis dikritisi habis-habisan, tetapi tidak pernah disodorkan sintesis. Tesis dianggap usang, antitesis dilontarkan keras-keras, tetapi ketika ditanya: “Solusinya apa?” semua terdiam.

Lalu apa nama proses berpikir seperti itu?

Jawabannya sederhana, tapi menyentak:

Namanya NOTHING.

Ya, nothing, kosong, hampa, tanpa arah, tanpa kontribusi. Sebab kritik tanpa tawaran pembaruan hanyalah kegaduhan intelektual yang tak menghasilkan apa-apa.

Mengkritik itu mudah. Siapa pun bisa melakukannya. Seseorang cukup melihat satu cacat kecil untuk menganggap seluruh bangunan salah. Tapi menawarkan sintesis, gagasan baru, solusi, program, atau pembaruan, itulah yang membedakan pengamat dengan pemimpin pemikiran.

Tanpa sintesis, kritik hanya menjadi: komentar kosong yang tak menambah nilai, pembicaraan bising yang tak mengubah keadaan, aktivisme setengah matang yang hanya membesarkan ego, atau bahkan pesimisme intelektual yang mematikan semangat perubahan.

Maka apabila ada orang yang menggugat tesis, tetapi tak berani mengusulkan sintesis, maka yang ia hadirkan bukanlah dialektika, melainkan kekosongan gagasan.

Dalam kerangka berpikir yang sehat, antitesis bukan dibuat untuk menjatuhkan, tetapi untuk melengkapi. Kritik yang baik selalu mengandung niat membangun, bukan niat meruntuhkan. Karena itu, kritik tanpa solusi sama saja dengan: membongkar jalan tanpa membuat jalan baru, merobek peta tanpa memberi arah, atau memadamkan lampu tanpa menyalakan obor.

Ia hanya menghasilkan ruang gelap. Tidak lebih.

Mengapa Sintesis Penting?

Karena hanya melalui sintesis, sebuah masyarakat bisa melompat ke tingkat peradaban yang lebih tinggi. Sintesis adalah bentuk kontribusi. Ia menandai kedewasaan intelektual dan keberanian moral.

Tanpa sintesis, kritik hanya menjadi hiburan.

Dengan sintesis, kritik menjadi peradaban.

Mari kita mulai membiasakan diri.

Jika ingin mengkritik, beranilah menawarkan alternatif.

Jika ingin membongkar tesis, siapkan sintesis.

Jika ingin mengubah keadaan, hadirkan gagasan, bukan sekadar keluhan.

Sebab tanpa itu semua, seluruh kritik hanya akan menjadi satu kata: NOTHING.

Uuuups… sorry. Tapi begitulah adanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *